Catatan Singkat Musyawarah Besar IKPM Gontor ke 11
Ini adalah catatan singkat, notulensi pribadi terhadap sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, pada Musyawarah Besar ke 11, Ikatan Keluarga Pondok Modern Darussalam Gontor.
Berikut poin - poin yabg disampaikan beliau :
1. Memulai dengan hamdalah, sebagaimana Rasulullah SAW memulai pidatonya. Tidak ada salam yang lebih baik dari salam Islam. Salam Islam tidak bisa disamakan dengan salam lainnya. Didalamnya terdapat salam, rahmat, dan barokah.
2. Zaman sekarang banyak yang diselewengkan, kita diupayakan meninggalkan identitas kita, dengan cara yang berbeda - beda.
3. Contoh toleransi adalah, ada orang Medan yang menonton Ludruk, ikut tertawa saat lucu. Intinya, mengerti atau tidak, harus ikut.
4. Orang sakit itu dipimpin orang sehat tidak enak. Begitupun sebaliknya.
5. Saat ini manusia jual Radikal Islam, Radikal Anti Islam. Maka yang mengatakan radikal, sesungguhnya ia maha radikal.
6. Islam tidak akan hilang dari muka bumi, namun dapat hilang dari Indonesia.
7. Manusia yang meninggalkan identitas adalah binatang. Banyak alumni yang tokoh, tapi dipaksa meninggalkan identitas. Jadi dalilnya ud'u ilaa sabiili golongan, bukan kepada Rabb.
8. Dunia ini sudah terlalu nikmat, harus bangun. Seperti surat Al Muddatsir. Karena terlalu enak berselimut penghormatan, jabatan, jadi tidak bisa mengamalkan Qum dan Andzir. Diriwayatkan dalam hadits, setan membisiki manusia agar tidur dan jangan bangun.
9. Saat ini, manusia meninggalkan nurani. Semua kembali pada perut, bukan batin.
10. IKPM bukan organisasi latah, ikut ikutan.
11. Pesantren melahirkan guru - guru bangsa, jangan sampai diseret menjadi murid - murid kebangsaan. Kiai bukan mengatur kehidupan, melainkan mendidik kehidupan.
1. Memulai dengan hamdalah, sebagaimana Rasulullah SAW memulai pidatonya. Tidak ada salam yang lebih baik dari salam Islam. Salam Islam tidak bisa disamakan dengan salam lainnya. Didalamnya terdapat salam, rahmat, dan barokah.
2. Zaman sekarang banyak yang diselewengkan, kita diupayakan meninggalkan identitas kita, dengan cara yang berbeda - beda.
3. Contoh toleransi adalah, ada orang Medan yang menonton Ludruk, ikut tertawa saat lucu. Intinya, mengerti atau tidak, harus ikut.
4. Orang sakit itu dipimpin orang sehat tidak enak. Begitupun sebaliknya.
5. Saat ini manusia jual Radikal Islam, Radikal Anti Islam. Maka yang mengatakan radikal, sesungguhnya ia maha radikal.
6. Islam tidak akan hilang dari muka bumi, namun dapat hilang dari Indonesia.
7. Manusia yang meninggalkan identitas adalah binatang. Banyak alumni yang tokoh, tapi dipaksa meninggalkan identitas. Jadi dalilnya ud'u ilaa sabiili golongan, bukan kepada Rabb.
8. Dunia ini sudah terlalu nikmat, harus bangun. Seperti surat Al Muddatsir. Karena terlalu enak berselimut penghormatan, jabatan, jadi tidak bisa mengamalkan Qum dan Andzir. Diriwayatkan dalam hadits, setan membisiki manusia agar tidur dan jangan bangun.
9. Saat ini, manusia meninggalkan nurani. Semua kembali pada perut, bukan batin.
10. IKPM bukan organisasi latah, ikut ikutan.
11. Pesantren melahirkan guru - guru bangsa, jangan sampai diseret menjadi murid - murid kebangsaan. Kiai bukan mengatur kehidupan, melainkan mendidik kehidupan.
Gontor, 6 September 2019
NB : Ini catatan pribadi penulis, segala kesalahan dan koreksi penulisan kembali kepada penulis.
NB : Ini catatan pribadi penulis, segala kesalahan dan koreksi penulisan kembali kepada penulis.

Komentar
Posting Komentar